Mengapa Indonesia Masih Kekurangan Perawat Saat Jutaan Anak Muda Mencari Kerja?
Mengapa Indonesia Masih Kekurangan Perawat, SMK Kefarmasian dan Keperawatan Merah Putih: Solusi Membangun SDM Kesehatan dari Daerah untuk Indonesia
Oleh: Mena M.S. Simarmata
Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks pembangunan yang tidak boleh dianggap biasa. Di satu sisi, jutaan anak muda masih berjuang mencari pekerjaan di tengah persaingan yang semakin ketat. Di sisi lain, banyak desa dan daerah terpencil justru masih mengalami kekurangan tenaga kesehatan.
Ketika sebagian lulusan sekolah dan perguruan tinggi kesulitan memasuki dunia kerja, masyarakat di sejumlah wilayah masih harus menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada Februari 2026 terdapat 154,91 juta angkatan kerja di Indonesia dengan jumlah penganggur mencapai 7,24 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka memang menurun menjadi 4,68 persen, namun pengangguran usia muda 15–24 tahun masih mencapai 16,36 persen. Lebih mengkhawatirkan lagi, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, yaitu 7,74 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan sekadar menciptakan lapangan kerja, melainkan menciptakan pendidikan yang benar-benar terhubung dengan kebutuhan pembangunan nasional.
Pada saat yang sama, pemerintah tengah mendorong pemerataan pelayanan kesehatan melalui berbagai program strategis yang berpuncak pada penguatan layanan kesehatan primer hingga tingkat desa. Namun pembangunan gedung, klinik, dan sarana kesehatan tidak akan berarti tanpa kehadiran sumber daya manusia yang mampu mengoperasikannya.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak daerah masih mengalami kesulitan mendapatkan tenaga perawat, tenaga teknis kefarmasian, bahkan tenaga kesehatan dasar yang menjadi ujung tombak pelayanan masyarakat.
Persoalan ini sesungguhnya membuka peluang untuk menghadirkan satu kebijakan yang mampu menjawab beberapa masalah sekaligus. Indonesia membutuhkan solusi yang tidak hanya mengurangi pengangguran, tetapi juga memperkuat kualitas sumber daya manusia dan pemerataan pelayanan kesehatan.
Salah satu alternatif yang layak dipertimbangkan adalah pengembangan SMK Kefarmasian dan Keperawatan Merah Putih melalui Program Sekolah Rakyat yang saat ini menjadi salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Gagasan ini berangkat dari pemikiran sederhana. Jika negara dapat memberikan akses pendidikan kesehatan yang berkualitas kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu, terutama yang berasal dari daerah yang kekurangan tenaga kesehatan, maka negara sesungguhnya sedang membangun sebuah rantai solusi yang berkelanjutan.
Pendidikan melahirkan tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan memperkuat pelayanan kesehatan desa. Pelayanan kesehatan yang baik meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pada akhirnya, kualitas sumber daya manusia yang lebih baik akan memperkuat daya saing bangsa.
Program Sekolah Rakyat memiliki karakteristik yang sangat sesuai untuk tujuan tersebut. Dengan konsep pendidikan berasrama dan pembiayaan penuh oleh negara, program ini dapat menjadi jalur mobilitas sosial bagi anak-anak dari keluarga miskin yang selama ini sulit mengakses pendidikan kesehatan. Tidak sedikit generasi muda di daerah yang memiliki potensi akademik dan semangat pengabdian tinggi, tetapi terkendala biaya pendidikan. Negara dapat hadir untuk membuka jalan bagi mereka.
Lebih penting lagi, pengalaman menunjukkan bahwa putra-putri daerah memiliki kecenderungan lebih besar untuk kembali mengabdi di kampung halamannya. Selama ini kebijakan pemerataan tenaga kesehatan sering berfokus pada redistribusi tenaga dari kota ke desa. Pendekatan tersebut penting, tetapi tidak selalu berkelanjutan.
Sebaliknya, menyiapkan tenaga kesehatan yang memang berasal dari daerah tersebut berpotensi menghasilkan tingkat retensi yang lebih tinggi dan ikatan sosial yang lebih kuat dengan masyarakat setempat.
Dalam konteks Asta Cita Presiden Prabowo, gagasan ini juga memiliki relevansi yang sangat kuat. Asta Cita keempat menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. Pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Karena itu, investasi pada pendidikan vokasi kesehatan sesungguhnya merupakan investasi pada masa depan Indonesia.
SMK Kefarmasian dan Keperawatan Merah Putih dapat dirancang sebagai sekolah vokasi berbasis kebutuhan nasional. Pendirian sekolah dilakukan berdasarkan pemetaan daerah yang mengalami kekurangan tenaga kesehatan. Peserta didik direkrut secara afirmatif dari wilayah tersebut. Kurikulum disusun sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan primer, perkembangan teknologi kesehatan, dan kebutuhan pelayanan masyarakat desa.
Selanjutnya, proses pembelajaran diperkuat melalui kerja sama dengan rumah sakit, puskesmas, klinik, dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya sebagai wahana praktik lapangan.
Yang tidak kalah penting, lulusan terbaik harus diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Negara tidak boleh membangun jalan yang berhenti di tengah perjalanan. Putra-putri daerah yang menunjukkan prestasi perlu memperoleh akses menuju pendidikan profesi kesehatan, bahkan pendidikan kedokteran. Dengan demikian akan tercipta kaderisasi tenaga kesehatan yang berkelanjutan di daerah.
Jika dirancang dengan baik, program ini dapat menghasilkan manfaat berlapis. Pertama, memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. Kedua, mengurangi pengangguran usia muda melalui pendidikan yang memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan pasar kerja. Ketiga, mempercepat pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan di desa dan daerah terpencil. Keempat, memperkuat keberhasilan program pelayanan kesehatan pemerintah hingga tingkat akar rumput. Dan yang tidak kalah penting, program ini menjadi implementasi nyata sila keempat dan sila kelima Pancasila, yaitu kerakyatan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Indonesia Emas 2045 tidak akan dicapai hanya dengan membangun infrastruktur fisik. Bangsa ini membutuhkan investasi besar pada manusia. Ketika jutaan anak muda masih mencari masa depan dan banyak desa masih mencari tenaga kesehatan, sesungguhnya terdapat peluang untuk mempertemukan keduanya dalam satu kebijakan yang visioner.
Pengembangan SMK Kefarmasian dan Keperawatan Merah Putih melalui Program Sekolah Rakyat dapat menjadi salah satu jawaban atas tantangan tersebut.
Karena pada akhirnya, pembangunan yang paling berharga bukanlah membangun gedung, melainkan membangun manusia yang akan mengisi dan menghidupkan gedung-gedung itu untuk melayani bangsa.
MMSS
Penulis adalah Apoteker dan ASN Badan POM yang saat ini menempuh pendidikan Magister Hukum Kesehatan di STHM dan merupakan alumnus Program Pemantapan Nilai-nilai Kebangsaan (PPNK) Lemhannas Angkatan 118. Ketertarikannya berfokus pada penguatan sistem kesehatan nasional, pemerataan tenaga kesehatan, dan pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi ketahanan nasional.




Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook