Cakratara.com – Di tengah arus globalisasi yang kian deras, tidak semua hal harus dibuka lebar-lebar. Ada nilai yang justru tetap kuat karena dijaga, dirawat, dan dihormati batas-batasnya. Seba Baduy adalah salah satu contoh bagaimana adat tidak sekadar dipertontonkan, melainkan dijalankan dengan penuh kesadaran akan makna dan amanat leluhur.

Seba Baduy bukan festival, bukan pula sekadar agenda budaya tahunan. Ia adalah bentuk pengabdian, ungkapan syukur, serta pengikat hubungan antara manusia, alam, dan pemimpin pemerintahan. Dalam setiap langkah perjalanan masyarakat Baduy menuju pusat pemerintahan, tersimpan nilai kesederhanaan, kejujuran, dan keteguhan memegang adat.

Namun di era keterbukaan informasi, tantangan muncul: bagaimana adat yang sakral ini tetap dikenal tanpa kehilangan ruhnya? Jawabannya bukan dengan membuka seluruhnya, melainkan dengan menyampaikan secukupnya, dengan cara yang tepat. Dunia boleh melihat, tetapi tidak semua harus diperlihatkan. Dunia boleh mengenal, tetapi harus diajak memahami, bukan sekadar menilai.

Menjaga adat bukan berarti menutup diri. Justru dengan pengelolaan yang bijak, melibatkan masyarakat adat sebagai subjek utama, menyaring informasi yang dibagikan, serta menghadirkan narasi yang utuh dan bermartabat, Seba Baduy dapat dikenal luas tanpa kehilangan jati dirinya.

Inilah pelajaran penting dari tanah Banten: bahwa tradisi tidak perlu berubah menjadi tontonan untuk diakui. Cukup dijaga dengan hormat, disampaikan dengan adab, dan dikenalkan dengan makna. Karena pada akhirnya, yang membuat budaya tetap hidup bukan seberapa luas ia dilihat, tetapi seberapa dalam ia dipahami.

Penulis : Dede Sudiarto

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook