Rehabilitasi dan Renovasi Madrasah Diduga Abaikan Transparansi
Cakratara.com-
Rehabilitasi dan Renovasi Madrasah PHTC propinsi Jawa Barat 2, dari PUPR dengan sumber anggaran dari APBN senilai Rp 21.379.878.000.00 mencakup 2 kabupaten yaitu Cianjur dan Sukabumi dengan jumlah 14 sekolah dengan kontraktor PT Bangun Nusa Raya di duga abaikan dan tidak mengedepankan ketranparansian ke pihak sekolah anggaran yang direncanakan dalam pekerjaan, salah satu contohnya di MI Malinggut.
Di awal pekerjaan sudah ada tanda tanda tidak adanya ketransparansian publik,yang dimana 2 hari pekerjaan sudah dimulai namun papan informasi belum terpasang, dipertanyakan ke kepala tukang pak ” saya hanya menjalankan tugas, saya pun sempat bingung belum ada papan tapi katanya kerjakan saja dulu ,nanti nyusul” ujar kepala tukang.
Setelah pekerjaan dilaksanakan dan dipertanyakan di hari berikutnya baru terpasang papan informasi. Semestinya persiapan papan informasi sudah di persiapkan karena merupakan salah satu dukungan adanya kewajiban ketranparansian publik.
Selanjutnya dikonpirmasi ke kepala sekolah MI malinggut
Nur Dahlan, S.Pd.I
mengenai anggaran untuk pekerjaan sekolah tersebut ” belum tau kalau yang sekarang, cuma
Anggaran awal 680 juta , estimasi 4 lokal. Sekarang di tambah jadi 8 lokal, belum tau anggaranya kalau yang sekarang” terang
Nur Dahlan, S.Pd.I
kepala sekolah MI Malinggut
Selanjutnya
Nur Dahlan, S.Pd.I
menambahkan” saya kurang ada kewenangan, sudah ada pengawasnya, silahkan ke pelaksanya saja langsung” tambah dahlan
Diduga tidak ada ketranparansian tersebut sewajarnya pihak pihak terkait memperketat pengawasan dalam pelaksanaan pekerjaan,seperti halnya kesesuaian material dan lainya harus extra diawasi jangan sampai tidak sesuai dengan RAB, mengingat pembangunan sekolah harus benar benar teruji kualitasnya,agar dapat digunakan secara nyaman dan aman untuk generasi generasi berikutnya.
Selain diduga tidak mengedepankan ketransparansian juga pelaksana sepertinya tidak mengpungsikan kearipan lokal seperti para pekerja, pelaksana membawa para pekerja dari luar daerah seperti garut,sementara belun ada satupun warga setempat dilingkungan yang diberdayakan,eloknya walau dua atau tiga orang warga diberdayakan setidaknya warga yang tidak bekerja tidak sekedar jadi penonton saja, bolak balik kendaraan pengangkut matrial atau aktivitas pekerjaan setidaknya sedikit banyak mengurangi kenyamanan lingkungan, bijaknya ada pemberdayaan untuk warga dilingkungan sekitar.




Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook