Connect with us

Metropolitan

BPAN AI Minta Satgas Mafia Tanah Segera Usut Kasus di Kedoya Selatan

Published

on

By

Badan Penelitian Aset Negara (BPAN) Aliansi Indonesia (AI) meminta Satgas Mafia Tanah Polda Metro Jaya memproses kasus di Kedoya Selatan

JAKARTA, CAKRATARA – Badan Penelitian Aset Negara (BPAN) Aliansi Indonesia (AI) meminta Satgas Mafia Tanah Polda Metro Jaya segera memproses pelaporan kasus di Alkamal Kedoya Selatan, Jakarta Barat.

Koordinator BPAN AI, Damiri mengatakan dengan adanya satgas tersebut diharapkan pemberantasan mafia tanah di Jakarta bisa dipercepat. Menurutnya, setidaknya ada satu kasus mafia tanah yang saat ini terjadi di Alkamal Kedoya Selatan. Kasus itu adalah, kasus dengan seorang warga kedoya korban menderita kerugian akibat tanahnya dibuatkan sertipikat oleh para mafia tanah yang mengakui tanah miliknya itu.

“Kasus ini polisi telah memprosesnya. Bahkan ada yang sudah diperiksa oleh penyidik Polres Jakarta Barat untuk dimintai keterangannya,” kata Damiri pada Kamis (9/9/21).

“Sebagai lembaga sosial kontrol yang juga mewakili korban kami siap untuk dimintai keterangan agar kasus ini dapat segera tuntas secara terang,” imbuhnya.

Damiri berharap BPN Jakarta Barat segera mencabut SK dari Sertifikat yang jelas pembuatanya diproses secara kurang baik itu, karena RT/RW nya tidak pernah menandatangani surat-surat apapun atas syarat administrasi dalam proses pembuatan buku tanah yang dimohonkan para mafia tanah itu. Bagaiman bisa diterbitkan A/N ahli waris/para mafia kembali, sementara diketahui umum tahun 2012 para mafia itu sudah melakukan transaksi dengan Indra Lim di Notaria/PPAT Alexander.

Yang dialami oleh para korban Dalam laporannya di Polda Metro Jaya, dan di Polres jakarta barat, mereka mengaku ditipu oleh para sindikat mafia tanah kelas tepung. Mereka mengaku menjadi korban kerugian materi yang cukup besar, akibat kedzoliman mafia tanah. karena termakan iming-iming dan diperlihatkannya foto coppy sertifikat tanah oleh para mafia akhirnya mereka melakukan transaksi jual beli dengan sindikat mafia tanah tersebut yang mengaku sebagai para ahli waris bidul bin bidan, ternyata korbannya tidak hanya satu orang pembeli, tapi ada enam orang yang uangnya sudah digasak oleh sindikat itu.

Damiri turut membantu aparat penegak hukum untuk memberantas para mafia tanah dengan melakukan kontrol sosial dan investigasi kepihak-pihak terkait kemudian menemukan beberapa Girik, dan Surat Laporan Keterangan Hilang Giril A/N Bidul bin Bidan yang biasanya mereka gunakan untuk menjalankan aksinya kejihnya, padahal beberapa tahun lalu mereka sudah menyatakan dihadapan saya dan para saksi mengaku tidak memiliki tanah dilokasi itu, yang akhirnya saya minta untuk dituliskan dalam surat pernyataan mereka dan disaksiakan juga oleh beberapa orang saksi yaitu rt dan rw lokasi tanah itu yang juga turut mengetahui bahwa mereka tidak memiliki tanah disitu, dan mantan lurah yang merasa termakan pengakuan para mafia itu sudah menyatakan bahwa dirinya lalai karena kurang mendalami atas segala hal-hal apapun yang saat itu sudah turut dilakukannya dalam pelayanannya itu.

Bahkan, lanjut Damiri, konyolnya sertifikat milik seorang warga yang berada disebelah lokasi tersebut yang sudah bersertifikat turut diklaim juga oleh mereka, dan akhirnya mereka kalah dalam persidangan dan dinyatakan oleh majelis hakim bahwa objek tanah yang berada disana tidak ada persil/blok serupa dengan yang para mafia itu klaim yaitu Persil/blok 118 D.V, melainkan blok/persil tanah disana Persil.136 D.III dari mulai depan jalan raya hingga kedalam perumahan PT.Aneka Elok. Keterangan penyanggah lainnya didapatkan oleh Damiri dari salah seorang RW yang juga memiliki Persil/blok 118 D.V yang sama dengan para mafia itu klaim lokasinya itu berada di wilayah sanggrahan, bukan di Kedoya alkamal

Damiri berharap kasus yang menimpa warga masyarakat kedoya itu bisa segera terungkap oleh Tim Satgas Mafia Tanah. Dia berharap agar para mafia yang telah merugikan kliennya bisa segera ditetapkan dan tangkap, untuk menghindari adanya jumlah korban.Kan tidak lucu kalau sampai ada sepuluh orang korban yang sama seperti yang sudah dialami oleh para korban yang hanya mengantongi beberapa PPJB dan AJB, yaitu Purnomo, Lili, Ayung, Indra Lim, Pardede, Tami. Terang damiri.

“Kami sangat berharap tim Satgas mafia tanah yang sudah dibentuk ini bisa cepat tanggap dalam hal ini,” harap Damiri.

Damiri mengatakan, pihaknya juga tengah meminta Polri untuk melakukan penyidikan dalam kasus tanah di Kedoya itu. “Masih pemeriksaan dan sudah naik sidik, dugaan pidananya ada, makanya harus segera naikkan ke selanjutnya untuk penentuan tersangkanya,” kata Damiri, Kamis 9 September 2021.

Damiri berharap dengan dibentuknya Satgas Mafia Tanah, warga yang memiliki kasus serupa bisa melapor ke polisi dan atau meminta bantuan BPAN AI.

Asep Supena
Cakratara

Redaksi Cakratara.com melayani Hak Jawab, dan Hak Koreksi apabila ada keberatan atau ketidakpuasan dengan pemberitaan kami dan menjadi sengketa.

Metropolitan

Ketum GWI Tegaskan Makmur Napitupulu Bukan Litbang DPP

Published

on

By

(Ketum) Gabungan Wartawan Indonesia (GWI) menegaskan atas nama Makmur Napitupulu bukan Litbang DPP. Pasalnya, sudah mengundurkan diri

TANGERANG, CAKRATARA – Ketua Umum (Ketum) Gabungan Wartawan Indonesia (GWI) H. Hasanudin (Walet) menegaskan atas nama Makmur Napitupulu bukan Litbang DPP GWI. Pasalnya, sudah mengundurkan diri sejak 6 bulan yang lalu.

Penegasan tersebut viralnya berita yang dimuat di salah satu media online lokal Kabupaten Tangerang dengan menyudutkan salah satu Institusi Polri Polresta Tangerang.

“Kami juga sangat menyayangkan statement yang sudah dilontarkan oleh mantan Anggota Litbang DPP GWI yang sudah tidak aktif dan sudah mengundurkan diri sejak 6 bulan yang lalu atas nama Makmur Napitupulu,” kata Ketum GWI.

Dijelaskan Hasanudin, bahwa statmen Makmur Napitupulu di salah satu media yang mana menyudutkan institusi polri adalah pernyataan pribadi makmur, dan bukan pernyataan GWI mengingat makmur sudah sejak lama bukan bagian dari GWI sendiri.

“Saya sendiri sebagai ketua umum DPP GWI sangat kecewa dengan perkataan makmur yang telah nengatasnamakan Litbang GWI dalam memberikan pernyataan di salah satu media yang jelas telah menyudutkan pihak kepolisian terkait kasus yang sedang dialami oleh 2 orang rekan kita yang diduga telah melakukan tindakan pemerasan terhadap mantan kades yang saat ini kembali mencalonkan diri. Tetapi saya yakin pihak kepolisian polresta tangerang akan bersikap profesional dalam penanganannya, tinggal kita lihat saja nanti perkembangannya,” tegasnya.

“Kami mendukung kinerja pihak kepolisian yang telah menindak oknum wartawan karena pemerasannya dan bukan profesi wartawannya, mengingat di mata hukum semua sama tanpa ada pengecualian, bila mana melakukan suatu tindak pidana yang dapat merugikan orang lain ya harus di tindak,” tutupnya.

Red: Asep Dedi Mulyadi
Cakratara

Continue Reading

Metropolitan

Kampus Untara Gelar Vaksinasi Tahap I dan II

Published

on

By

Kampus Universitas Tangerang Raya (Untara) menggelar vaksinasi tahap I dan II bagi mahasiswa, pengurus kampus dan warga sekitar

TANGERANG, CAKRATARA – Kampus Universitas Tangerang Raya (Untara) menggelar vaksinasi tahap I dan II bagi mahasiswa, pengurus kampus dan warga sekitar kampus yang dilaksanakan di Aula Kampus Untara Perumahan Sudirman Indah RT 06/RW 06 Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang, Rabu (22/9/2021).

Pelaksanaan vaksinasi di Kampus Untara dihadiri Rektor 1 Dr. Bobby Reza, Skom, MM, DR.Joko Dewanto, S.Pd, M.Pd, Rektor 2 dari Nakes Kabupaten Tangerang, Kepala Dinas Kesehatan dr.Desi Riana Dinardianti, Kepala satgas Covid-19 Kabupaten tangerang, DR.Tarmizi, Dokpol Polresta Tangerang, dr.Siti Maesaroh, Serta Muspika Kecamatan Tigaraksa.

Kegiatan vaksinasi di Kampus Untara tersebut menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes) yang sangat ketat, bagi peserta vaksinasi yang masuk wajib memakai masker mencuci tangan dengan hand sanitaizer dan menjaga jarak.

Rektor 1 Untara Dr. Bobby Reza., S.Kom, M.M. mengatakan proses penyuntikan vaksinasi diberikan ke peserta sebanyak 500 dosis yang di suntikan sebelumnya vaksinasi tahap I telah dilaksanakan (28/9/2021) lalu, dan sekarang adalah tahap II sekitar 500 dosis dan tidak ada kemungkinan ada tambahan dari tempat lain sekitar 100 dosis kemungkinan yang sekarang kita laksanakan bisa 600 dosis.

“Mudah-mudahan dengan kegiatan vaksinasi ini, baik rekan-rekan mahasiswa ataupun masyarakat dapat memiliki kekebalan tubuh sehingga dapat membentuk Herd Immunity atau kekebalan komunitas,” harapnya.

Ahmad salah satu peserta vaksinasi mengucapkan terimakasih dan sangat mengapresiasi kegiatan vaksinasi pertama dan kedua hari ini, kepada tim panitia dan pelaksana kampus Untara, khususnya Dr. Bobby Reza, S.Kom, MM.

Selain itu senada dikatakan oleh Rektor 2 Untara DR.Joko Dewanto, S.Pd, M.Pd menjelaskan, vaksinasi pertama sebelumnya digelar pada (28/8/2021) dan yang kedua pada hari ini Rabu (22/9/2021) sebanyak 500 dosis tambahan dari tempat lain sekitar 100 dosis tidak menutup kemungkinan yang sekarang bisa laksanakan 600 dosis.

Kegiatan vaksinasi ini dilaksanakan sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Ia juga meminta agar semua individu di kampus termasuk kepada masyarakat umum untuk selalu disiplin melaksanakan protokol kesehatan.

“Tetap patuhi protokol kesehatan. Jaga dirimu, jaga keluargamu, jaga kesehatan selalu,” tandasnya.

Sedangkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dr.Desiriana Dinardianti, mengapresiasi kegiatan vaksinasi itu. Kata dia, vaksinasi dilaksanakan dalam rangka percepatan vaksinasi se Kabupaten Tangerang guna pencegahan penyebaran Covid-19.

“Jaga dirimu, jaga keluargamu, jaga bangsa ini dengan cara patuhi protokol kesehatan 5M. Maka dengan itu kita ikut berperan dalam pencegahan dan penyebaran Covid-19,” terangnya.

Anton Hermawan
Cakratara

Continue Reading
Advertisement

Facebook

Trending

Cakratara.com We would like to show you notifications for the latest news and updates.
Dismiss
Allow Notifications