CAKRATARA.com – Sembilan inisiator yang tergabung dalam Tim Nawa Guru meluncurkan gerakan Guru Bangsa di Tjikini Lima, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026). Mengusung slogan “Setara untuk Indonesia”, gerakan ini berfokus pada perluasan akses pendidikan, advokasi, kepedulian terhadap lingkungan, serta pembentukan karakter anak bangsa.

Gerakan Guru Bangsa berawal dari kegelisahan tiga aktivis, yakni Nando, Gorbachev, dan Norman, terhadap berbagai persoalan pendidikan di Indonesia. Mereka menyoroti keterbatasan akses belajar, kekerasan fisik dan verbal, serta perundungan yang masih mengancam peserta didik. Mereka menilai setiap anak berhak mendapatkan kesempatan belajar dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan potensi diri.

Para inisiator ingin menghidupkan semangat Nawacita, khususnya dalam pemerataan akses pendidikan, penguatan Program Indonesia Pintar, pembenahan kurikulum, dan penanaman budi pekerti. Gerakan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus mendukung lahirnya generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Tim kemudian mengajak sejumlah tokoh dan aktivis untuk bergabung, di antaranya Joi Phiau, anggota DPRD DKI Jakarta; Susy Rizky, pegiat sosial; Yudi Saputra, organisatoris; Santo Feliks, pengacara; Siti Aisah, pakar hukum; dan Maria, pengamat pertahanan. Bersama tiga inisiator awal, mereka membentuk Tim Sembilan atau Nawa Guru.

Dalam peluncuran tersebut, Nawa Guru menetapkan siluet Joko Widodo, Presiden ke-7 Republik Indonesia, sebagai ikon Guru Bangsa. Menurut para inisiator, pilihan tersebut didasarkan pada pandangan mereka terhadap upaya perluasan akses pendidikan, termasuk melalui Kartu Indonesia Pintar, serta semangat pemerataan kesempatan belajar yang ingin diteruskan oleh gerakan tersebut.

Nawa Guru menegaskan Guru Bangsa bukan gerakan politik dan tidak berafiliasi dengan partai, organisasi, maupun kelompok politik mana pun. Gerakan ini menyatakan terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap masa depan pendidikan Indonesia.

“Gerakan Guru Bangsa ini bukan gerakan politik dan tidak berafiliasi dengan partai, organisasi, atau kelompok politik mana pun. Guru Bangsa juga terbuka untuk bekerja sama dengan siapa saja yang peduli terhadap pendidikan Indonesia,” ujar para inisiator.

Dalam kesempatan itu, Nando menjelaskan bahwa para relawan telah menyalurkan ribuan buku dan perlengkapan sekolah kepada anak-anak yang membutuhkan di sejumlah daerah. Bantuan tersebut meliputi buku bacaan, buku gambar, krayon, dan alat tulis untuk mendukung kegiatan belajar.

“Kami masing-masing sudah bergerak dan akan terus bergerak di daerah untuk menyalurkan buku, buku gambar, krayon, dan alat tulis dari Guru Bangsa kepada anak-anak sekolah,” kata Nando.

Gorbachev mengatakan kegiatan menggambar dapat menjadi sarana untuk menarik minat belajar anak sekaligus mengembangkan kreativitas dan kebersamaan. Kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi alternatif positif bagi anak-anak agar tidak terlalu bergantung pada gawai.

Sementara itu, Norman menilai aktivitas menggambar dan mewarnai membantu anak melatih keterampilan motorik, konsentrasi, ketekunan, kreativitas, serta imajinasi. Menurutnya, pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga perlu memberikan ruang bagi perkembangan emosi dan karakter anak.

“Pendidikan juga perlu memberi ruang bagi anak untuk mengolah rasa, bukan hanya mengejar nilai akademik,” ujarnya.

Gerakan ini turut mendapat dukungan dari berbagai pihak yang menyumbangkan perlengkapan sekolah. Joi Phiau menyampaikan bahwa sejumlah bantuan, termasuk krayon, telah diberikan untuk dibagikan kepada anak-anak yang membutuhkan.

Susy Rizky berharap semakin banyak masyarakat terlibat dalam kegiatan kerelawanan Guru Bangsa. Ia menyebut sejumlah warga di Bekasi telah menanyakan cara bergabung setelah melihat kegiatan pembagian buku gambar di beberapa sekolah.

Yudi Saputra menambahkan, minat masyarakat untuk berpartisipasi mulai muncul di sejumlah daerah, termasuk Papua. Nawa Guru berharap jejaring relawan dapat berkembang hingga tingkat provinsi, kabupaten, dan kecamatan sehingga manfaat kegiatan pendidikan dapat menjangkau lebih banyak anak.

Selain bergerak di bidang pendidikan, Guru Bangsa berencana mengembangkan kegiatan sosial sesuai keahlian para relawannya. Santo Feliks dan Siti Aisah, misalnya, menyampaikan rencana penyediaan bantuan hukum gratis bagi masyarakat yang membutuhkan informasi dan pendampingan dalam memahami persoalan hukum.

Dalam diskusi bersama awak media, Maria mengingatkan pentingnya pendidikan yang menghargai keberagaman dan berakar pada jati diri bangsa. Ia juga menekankan relevansi pemikiran Ki Hadjar Dewantara sebagai salah satu rujukan penting dalam perjalanan pendidikan Indonesia.

“Keberagaman adalah keistimewaan bangsa dan akses pendidikan adalah sebuah keniscayaan untuk Indonesia Emas. Guru Bangsa akan terus menyuarakan ‘Setara untuk Indonesia’,” ujar Maria.

Menurut Nawa Guru, kegiatan Guru Bangsa telah berlangsung di sejumlah daerah, antara lain Kalimantan Timur, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Sumatera Utara. Dokumentasi kegiatan tersebut dihimpun dalam kompilasi video dari berbagai provinsi serta kabupaten dan kota.

Melalui gerakan ini, Nawa Guru berharap semakin banyak masyarakat, komunitas, dan relawan bergotong royong memperluas kesempatan belajar, memperkuat karakter anak, serta mewujudkan pendidikan yang lebih merata bagi seluruh anak Indonesia. •angga

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook