Cakratara.com – Aktivis Lebak Dede Kodir, menyoroti Proyek Pembangunan JUT (Lapen) di Desa Sukanegara Kecamatan Gunungkencana Kabupaten Lebak-Banten, pasalnya diduga tidak sesuai spesifikasi dan asal jadi, Selasa (30/04/24).

Baru-baru ini pembangunan JUT (Lapen), di Desa Sukanegara, menjadi sorotan oleh Aktivis Kabupaten Lebak, Dede Kodir mengatakan kepada awak media bahwa, Proyek pembangunan JUT (Lapen) di Desa Sukanegara telah selesai dikerjakan dan proyek tersebut bersumber dari Dana Desa (DD) APBDes tahun anggaran 2024 untuk pembangunan fisik jalan, yaitu pembangunan JUT (Lapen) di Kampung Karamat, dengan volume 450 M x L 2,50 M. Dengan nilai pagu anggaran Rp 190 000 000 (seratus sembilan puluh juta rupiah).

“Setelah saya amati dan kroscek ke lokasi proyek pembangunan jalan Lapen di Desa Sukanegara ini tidak sesuai spek, dan asal jadi, kenapa saya katakan demikian, karena sangat jelas terlihat hasil pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi, sehingga temuan ini akan sangat layak dijadikan bahan untuk ditindaklanjuti,” ujar Dede Kodir.

Yang menjadi pertanyaan di lokasi pekerjaan, jalan tersebut baru saja selesai dikerjakan, tapi hasil pengamatan secara kasat mata pembangunan jalan lapen tidak akan bertahan lama,” tambahnya.

Lebih lanjut Dede Kodir mengatakan, “Semestinya pembuatan jalan lapen, memakai hampar batu 3/5 giling, terus hampar batu 2/3 giling/costing, terakhir batu 1/2, giling/costing terakhir tutup batu abu/pasir, semestinya pekerjaannya begitu tiga kali costing.

Kuat dugaan secara teknis pekerjaan tersebut tidak maksimal, sebab bila mengacu kepada spesifikasi dan teknis (spektek) pembangunan berstandar SNI, jalan Lapen harus memiliki ketebalan 5 sampai 6 cm dari onderlagh.

Sedangkan fakta di lokasi, batu dasar atau batu onderlagh memang telah ada dibangun terlebih dahulu, di sini kuat dugaan mark up material batu, dan diperkirakan hanya memiliki ketebalan yang tidak standar.

Kemudian, penyiraman aspal (coating) yang semestinya tiga kali tingkatan, secara analisa saya di lapangan hasil penyiraman aspal yang tidak mengacu dalam aturan spesifikasi dan penyiraman yang tidak maksimal sehingga tidak akan bertahan lama.

“Jadi secara kasat mata, pekerjaan pembangunan Lapen tersebut diduga ada pengurangan volume material yang meliputi pengurangan batu split dari (5/7, 3/5 dan 1/2) yang saya cermati secara ukuran bahan material dan pengurangan jumlah aspal serta ketebalannya,” pungkas Dede Kodir.

Sementara, hingga berita ini terbit, awak media masih terus menghubungi Ketua TPK dan Kepala Desa Sukanegara guna dipinta konfirmasi dan tanggapannya terkait dugaan permasalahan tersebut diatas, dan akan ditayangkan pada running berita selanjutnya.

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook