Connect with us

Nusantara

Raih Penghargaan Terbaik III, Lapas Rangkasbitung Dapat Penghormatan

Published

on

(Lapas) Kelas III Rangkasbitung mendapat kehormataan dan kebanggannya atas keberhasilan dinobatkan raih penghargaan terbaik III

LEBAK – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Rangkasbitung mendapat kehormataan dan kebanggannya atas keberhasilan dinobatkan raih penghargaan terbaik III Penyelenggaraan Makanan dari 657 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Lapas dan Rutan seluruh Indonesia.

Penghargaan tersebut langsung diberikan oleh Menko Polhukam, Prof Mahfud Md, didampingi Wamenkumham, Dirjen PAS, Ketua KPK dan pejabat tinggi lainya di Hotel Luwansa Jakarta kepada Kalapas Rangkasbitung, Senin (26/04).

Kepala Lapas Rangkasbitung, Budi Ruswanto membenarkan bahwa pihaknya raih dua penghargaan terbaik III dan terbaik I. Penghargaan tersebut merupakan rangkaian dari Peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan.

“Kita semua patut berbangga raih penghargaan terbaik ini untuk seluruh jajaran Lapas dan stakeholder terkait., kami tentu tidak berpikir mengejar penghargaan semata, karena jajaranya memang bekerja sesuai Standar yang berlaku, menerapkan semua instrumen dan indikator dalam penyelenggaraan Makanan dengan prinsip higiene dan sanitasi serta seusai kalori dan Angka kebutuhan Gizi¬† (AKG) yang telah ditetapkan dalam aturan” Ujar Budi.

Diminta tanggapan secara berbeda, Kasubsi Pembinaan, Eka Yogaswara menyampaikan rasa haru dan bangganya karena kinerja dari Rekan-rekan Lapas Rangkasbitung mendapat apresiasi.

“Alhamdulillah ya atas capaian ini, tentu ini mwnjadi motivasi kita bersama, tidak jumawa tapi justru menjadi acuan dalam bekerja dan memberikan pelayanan sudah ada standarnya, harus dipertahankan bahkan dtingkatkan, insyallah jika dilandasi niat ibadah, bekerjapun akan mendapat kelancaran dan keberkahan dari Allah SWT” Pungkas Yoga sapaan akrabnya.

Diberitakan sebelumnya, Lembaga Pemasyarakatan juga meraiah Penghargaan lain, yaitu Terbaik I dalam bidang Layanan kerjasama antar UPT Lapas/rutan seluruh Indonesia.

Anton Hermawan
Cakratara.com

Redaksi Cakratara.com melayani Hak Jawab, dan Hak Koreksi apabila ada keberatan atau ketidakpuasan dengan pemberitaan kami dan menjadi sengketa.

Nusantara

Jual Beli Tanah di Desa Sarageni Janggal, Ormas BBP akan Gali Informasi

Published

on

warga di Desa Sarageni Kecamatan Cimarga Kabupaten Lebak yang telah melakukan transaksi jual beli tanah SPPT

LEBAK, CAKRATARA – Sejumlah warga di Desa Sarageni Kecamatan Cimarga Kabupaten Lebak yang telah melakukan transaksi jual beli tanah SPPT kepada pihak Pokhpand menuai kejanggalan.

Pasalnya, Kepala Desa (Kades) Sarageni, Hamim diduga tidak mengetahui aktivitas tersebut pasca sejumlah warga yang telah menerima pembayaran dari pihak Pokhpand.

“Saya tidak tahu sama sekali jika ada beberapa warga Desa Sarageni yang menjual tanahnya kepada pihak perusahaan, begitupun dengan berapa jumlah dan harganya saya sama sekali tidak tahu,” ujar Hamim.

Salah satu warga Desa Sarageni yang enggan disebutkan namanya sebagai pemilik lahan mengaku bahwa dirinya menjual sebidang tanah dengan luas 13 x 800 M2. Dirinya mengaku bahwa tanahnya dibeli dengan harga Rp. 70.000,00 per meter dan telah menerima pembayaran sebesar Rp. 60 juta rupiah.

Berdasarkan informasi yang terus terhimpun warga mengaku bahwa seluruh transaksi jual beli tidak dilakukan dengan pihak perusahaan, melainkan dengan oknum Sekretaris Desa (Sekdes) Sarageni. Terlebih warga mengaku bahwa dirinya tidak menerima surat pernyataan jual beli maupun kuitansi pembayaran.

“Ya saya tanda tangan pak, tapi berkasnya diambil lagi sama Sekdes,” terang salah satu warga yang menjual tanah miliknya pada awak media, Minggu (16/01/2022).

Di tempat terpisah, Ketua DPC Ormas Badak Banten Perjuangan Kabupaten Lebak, Erot Rohman merasa adanya kejanggalan dalam proses jual beli tersebut.

“Masa ada transaksi jual beli tanah tapi Kepala Desa tidak tahu, mestinya kan proses jual beli tanah itu kan dilakukan antara pihak penjual dan pembeli yang juga disaksikan oleh pihak Kepala Desa. Kalau transaksinya dengan Sekdes ini ada apa? Masa pihak pemerintah Desa menjadi pembelinya?,” kata Erot bertanya-tanya.

“Mustinya Kepala Desa mengetahui proses itu sehingga desa nanti bisa mengeluarkan surat pernyataan tanah tidak sengketa, surat pernyataan riwayat tanah dan juga surat keterangan penguasaan tanah sporadik, mengingat ini tanah yang belum bersertifikat darisitulah nanti dasar pembuatan AJB di PPAT,” tambah Erot Rohman

Lanjut Erot, persoalan tanah ini tidak bisa main-main harus tertib administrasi, jangan sampai ada pihak yang dirugikan sehingga memberi celah pada oknum tertentu untuk memperkaya diri sendiri.

“Saya akan terus menggali informasi karena saya yakin ini ada yang tidak beres,” tandas Erot menutup pembicaraan.

Sebagai daerah yang strategis tentunya memicu sejumlah pemodal untuk berinvestasi di wilayah Multatuli ini, tidak terkecuali perusahaan ternak ataupun yang dikenal dengan nama PT. Pokhpand.

Akan tetapi dalam prakteknya investasi ini tentunya tidak semulus seperti yang kita harapkan sekalipun kita tahu bahwa segala bentuk kegiatan itu sudah ada aturan yang berlaku. Seperti halnya di Desa Sarageni Kecamatan Cimarga Kabupaten Lebak Provinsi Banten.

Herdi Sudrajat
Cakratara

Continue Reading

Nusantara

Nelayan Mengeluh, Akibat Pencemaran Air Sungai Hasil Tangkapan Jadi Menurun

Published

on

Nelayan di muara Sungai Cipamubulan Kampung Pulo Manuk Desa Darmasari Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak Provinsi Banten, mengeluhkan

LEBAK, CAKRATARA РMasyarakat Nelayan di muara Sungai Cipamubulan Kampung Pulo Manuk Desa Darmasari Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak Provinsi Banten, mengeluhkan terjadinya pencemaran air sungai yang diduga akibat limbah penambangan pasir yang ada di hulu sungai Cipamubulan.

Pasalnya, keruhnya air akibat limbah tersebut dirasa para nelayan, telah mengakibatkan menurunnya pendapatan nelayan penangkap ikan dan nelayan Jodang (penangkap lobster).

Seperti yang dikatakan salah seorang Nelayan Budi yang biasa menangkap ikan diseputaran Muara Cipamubulan kepada wartawan mengatakan, bahwa di Bulan Jumadil Awal (Januari-red) seperti sekarang ini, biasanya para nelayan tradisional panen ikan Jaburan, seperti ikan Kakapasan, layur dan lain-lain. Namun setelah aliran sungai Cipamubulan terkontaminasi oleh limbah pertambangan pasir mengakibatkan beberapa biota laut seperti ikan menjauh dari habitatnya, terang Budi, Minggu (16/01/2022).

Kotornya air Sungai Muara Pamubulan juga di keluhkan oleh nelayan jodang ( penangkap Lobster-red) yang nyaris setiap hari hasil tangkapannya nihil. Menurut dia, itu akibat lumpur-lumpur limbah melekat di karang-karang yang biasa menjadi tempat lobster.

“Sekarang saya sangat sulit sekali untuk bisa mendapat lobster, karena karang-karang yang biasa tempat lobster mencari makan sudah dipenuhi lumpur, jadi lobster tidak mau lagi kesitu”, katanya.

Di tempat terpisah, keluhan juga di sampaikan Yunita salah seorang pengunjung wsata dari Bogor yang pada masa liburan biasa berwisata ke Destinasi Wisata Pantai Pulo Manuk.

“Dulu pantai Pulo Manuk adalah salah satu destinasi pavorit keluarga kami karena keindahan alam dan kebersihan pantainya. Namun belakangan ini setiap berkunjung ke Pantai Pulo Manuk air lautnya selalu keruh dan kotor, yang tadinya kami bisa mandi, sekarang karena airnya kotor jadi tidak bisa nyaman lagi untuk mandi,” katanya.

Masyarakat nelayan yang ada di Muara Sungai Cipamubulan berharap, agar pihak-pihak dan dinas terkait melakukan penetiban terhadap pertambangan pasir kuarsa yang ada dihulu sungai Cipamubulan tersebut, agar tidak limbah penambangan pasir tersebut tidak mencemari Sungai Cipamubulan.

Red
Cakratara

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!
Continue Reading
Advertisement

Facebook

Trending