Cakratara.com – Disana hari ini, disini masih kemarin, itulah pertanda waktu yang sering diperbincangkan oleh kita semua. Jelang hari raya, khususnya hari raya dalam agama Islam, biasanya pemerintah melakukan sidang untuk menetapkan waktunya. Sidang penetapan itu hanya dilakukan menjelang hari raya tertentu saja. Seperti penetapan tanggal 1 Ramadan, 1 Syawal, dan 1 Dzulhijjah. Sidang tersebut didasarkan pada hasil pengamatan atau penelitian, yang dilakukan dengan metodologi rukyatul hilal dan hisab.

Beda waktu antara di Arab Saudi dengan di Amerika Serikat adalah sekitar 8 jam. Waktu di Mekkah lebih dulu dibanding waktu New York. Artinya, bila di Mekkah sudah pukul 04.30 waktu setempat, maka pada saat yang sama, di New York baru pukul 20.30 waktu setempat. Bila pada detik yang sama di Mekkah sudah masuk waktu imsak jelang subuh, maka di New York pada saat yang sama masih “kemarin”. Artinya, beda hari.

Kalau waktu puasa arafah harus mengikuti waktu puasa di Arab Saudi, maka pada detik yang sama, belahan dunia lain masih “kemarin”, belum hari ini. Tibanya waktu untuk memulai berpuasa arafah yang ditetapkan pada tanggal 9 Dzulhijjah itu adalah 8 jam kemudian, yang bagi Amerika Serikat adalah keesokan harinya. Dalam skala yang berbeda, demikian juga dengan waktu di Indonesia.

Karena itulah mengapa ada perbedaan waktu pelaksanaan puasa arafah dan pelaksanaan solat iedul adha antara di Arab Saudi dengan di Amerika, juga dengan di Indonesia. Posisi Arab Saudi berada di sebelah barat Indonesia, sehingga waktu di Indonesia lebih cepat 4 jam. Tetapi, hilal justru lebih mungkin terlihat lebih dulu di Arab Saudi, karena terlihatnya di sebelah barat pada saat terbenamnya matahari.

Empat jam kemudian membuat Arab Saudi sudah berada pada posisi “besok”. Sementara pada detik yang sama, di Indonesia masih “hari ini”. Karena di Arab Saudi sekarang sudah “besok” yang adalah waktunya berpuasa arafah, maka mereka akan solat idul adha sehari setelahnya pada 10 Dzulhijjah. Sementara di Indonesia, hari ini belum masuk “besok”. Lalu kapan puasa arafahnya? Ya besoknya. Dalam hal ini, Indonesia bukan lebih cepat 4 jam dari Arab Saudi. Tapi “belakangan” hingga 20 jam.

Perbedaan waktu antar negara di berbagai belahan dunia ini terjadi karena disebabkan oleh proses rotasi bumi dan revolusi matahari. Pengetahuan ini merupakan buah dari keyakinan –atas hasil penelitian ilmiah- bahwa bumi itu bentuknya bulat. Karenanya, kemungkinan perbedaan waktu di berbagai wilayah di bumi tidak akan dibenarkan apalagi dipercayai oleh mereka yang punya anggapan bahwa bumi ini datar.

Bila keukeuh bahwa waktu puasa arafah harus mengikuti Arab Saudi, bagaimana dengan wilayah di bumi lainnya yang pada saat itu masih malam hari? Apakah boleh berpuasa pada malam hari? Di Mekkah sudah imsak, di New York pada detik yang sama umat Islam sedang solat isya. Mereka akan memulai berpuasa 8 jam kemudian yaitu besok ketika imsak telah tiba saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Demikian pula dengan umat Islam di Indonesia.

Begitu seterusnya. Ketika di Arab Saudi sedang melaksanakan solat iedul adha, maka pada detik yang sama di wilayah Amerika sedang makan malam usai berbuka puasa. Mereka akan melaksanakan solat iedul adha nanti besok. Karena “saat ini disini masih malam”. Demikian juga dengan di Indonesia. Jadi, bila pelaksanaan solat idul adha di Indonesia waktunya berbeda hari dengan pelaksanaan solat idul adha di Arab Saudi, sejatinya bukan perkara yang aneh. Apalagi ngaco dan sesat.

Belajar ilmu falak untuk menentukan kapan datangnya waktu itu, bukan semata bisa kita gali dan kaji dari kitab Al-Mathla’ as-Sa’īd fī Hisābāt al-Kawākib ‘ala Rashd al-Jadīd” karya Syaikh Husain Zaid saja. Tetapi juga bisa kita ketahui dengan belajar geografi dan astronomi yang dirumuskan oleh para peneliti, ilmuwan, dan cendekiawan, yang karyanya tidak melulu kita dapatkan lewat kitab kuning yang gundul. Bahkan, secara sederhana kita sudah mempelajarinya ketika duduk di bangku madrasah lewat pelajaran IPA.

Mestinya, perbedaan waktu pelaksanaan solat idul adha di berbagai belahan dunia menjadi aneh, hanya pada mereka yang belum paham tersebab belum mempelajarinya. Ari untuk kita mah yang alumni pesantren, madrasah, dan sekolahan yang telah khatam belajar geografi, astronomi, bahkan IPA yang paling dasar, yang kemudian memercayai bahwa bumi itu bulat, maka fenomena ini bukan perkara yang bisa memaksa kita untuk mengerenyitkan dahi.

Tulisan singkat ini tidak sedang memperdebatkan apalagi mempertentangkan perbedaan waktu pelaksanaan solat idul adha. Karena masing-masing pendapat memiliki dasar, hukum, argumentasi, alasan, serta dalil yang menguatkan pendapatnya. Sehingga setiap kita dipersilakan untuk mengikuti pendapat mana yang mau diikuti.

Tulisan ini hanya untuk mengcounter atas rasa heran dan aneh pada sebagian dari kita, lalu mempertanyakan yang kadang disertai merasa benar sembari menuduh bahwa yang berbeda dengannya adalah salah. Padahal heran dan aneh itu muncul dari ketidak-pahaman sendiri akibat minim referensi yang berakibat pada perasaan benar sendiri.

Semoga saya pun tidak masuk pada golongan yang merasa benar sendiri. Semoga kita semua masuk pada golongan orang-orang yang senantiasa menghargai perbedaan pendapat. Ini pendapat saya. Bisa jadi pendapat saya salah, eh benar. Karena bila salah, taruhannya terlalu berat; bahwa bumi itu datar, menjadi benar adanya.

Kan bumi bulat dan berputar itu menyebabkan terjadinya siang dan malam. Masih belum percaya dengan simpulan hasil penelitian itu? Begini saja dah. Waktu kita nonton pertandingan sepakbola antara Belgia melawan Slovakia, itu kan di kita pukul 24.00 WIB atau tengah malam. Tapi siaran langsung dari Frankfrut Jerman itu kita saksikan sendiri bahwa disana pada detik yang sama sedang siang hari. Jelas kan? Wallahualam.
***