Connect with us

Nusantara

KPM Ungkap Dugaan Penggelapan ATM PKH

Published

on

By

Keluarga Penerima Manfaat (KPM) ungkap dugaan penggelapan kartu ATM atau KKS dana bansos PKH oleh oknum Ketua RT di Kecamatan Panimbang

PANDEGLANG, CAKRATARA – Keluarga Penerima Manfaat (KPM) ungkap dugaan penggelapan kartu ATM atau KKS dana bansos PKH oleh oknum Ketua RT di wilayah Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Aksi penggelapan kartu KKS diketahui setelah inisial SR ibu paruh baya salah satu KPM ungkap dugaan penggelapan dana Program Keluarga Harapan (PKH) dengan memberanikan diri mengungkapkan tidak pernah memegang kartu KKS atau ATM PKH terakhir pada bulan Januari 2019 hingga sekarang.

“Saya jadi anggota PKH semenjak tahun 2019 hingga sekarang tahun 2021 masih menjadi anggota penerima bansos Program Keluarga Harapan (PKH) sampai sekarang. Namun setiap pencairan dana PKH saya tidak tahu berapa saldo di ATM PKH dan berapa yang seharusnya diterima. Karena setiap pencairan dana tersebut saya selalu dikasih uang cash oleh pendamping kelompok dan oknum Ketua RT,” ungkap SR saat ditemui di kediamannya, Jumat (30/07/2021).

Terpisah, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Ketua pendamping PKH Desa Citeureup inisial DA mengatakan bahwa kartu KKS PKH tidak dipegang oleh Ketua Kelompok ataupun Ketua RT. Dirinya juga mengatakan tidak mengetahui bahwa Kartu KKS KPM dipegang atau dikumpulkan oleh Ketua kelompok maupun oknum Ketua RT.

“Sebelumnya saya ingin tahu KPM mana yang merasa KKS nya dipegang oleh ketua ataupun RT nya pak, biar nanti kita ketemu dan jelasin, PKH juga punya kode etik pak, saya harus menjelaskan ke orang yang bersangkutan. Takutnya bukan KPM saya, jadi saya nggak tahu harus menjelaskan apa yang bermasalah disini kan KPM dengan ketua kelompok atau RT jadi yang bersangkutan harus tahu apa yang akan saya jelaskan nantinya biar tidak ada salah paham berkepanjangan,” ujarnya kepada wartawan.

Dia menegaskan, tidak bisa jika hanya menjelaskan ke RT dan ketua kelompok karena yang merasa di rugikan KPM yang lapor. Perlu di ketahui bahwasanya PKH itu cairnya tiap 3 bulan sekali, sedangkan BPNT yang dicairkan oleh RT itu cairnya setiap bulan.

“Apa mungkin ketua kelompok yang selalu memegang KKS ? Sedangkan setiap bulan pencairan BPNT harus pakai KKS, Ketua kelompok sudah jelaskan tadi bahwasanya dia gak pegang KKS. Kita ketemu saja langsung sama KPM, ketua RT dan ketua kelompok biar jelas. Saya tidak pernah merasa kalau saya paling benar,” tuturnya.

Di tempat terpisah Samsuni selaku Ketua OKK Badak Banten mengaku hal ini harus segera dilaporkan kepada APH. Menurutnya persoalan fugaan Penggelapan Kartu KKS ini sangat merugikan masyarakat selaku penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) yang benar-benar tidak mampu dan hak nya diduga telah di gelapkan selama dua tahun.

”Setelah saya investigasi lebih dalam ternyata para oknum ini dalam melakukan aksinya sudah sangat lama dilakukan dan saya sudah full baket dengan disertai bukti-bukti pernyataan masyarakat KPM Desa Citeureup, selaku penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan print out rekening koran dari bank yang sangat jelas semua KPM PKH telah dirugikan dan hal ini berkas laporan pengaduan akan saya serahkan kepada Aparat Penegak Hukum kejaksaan tinggi Banten,” tutupnya.

Yeyen Sudrajat
Cakratara

Redaksi Cakratara.com melayani Hak Jawab, dan Hak Koreksi apabila ada keberatan atau ketidakpuasan dengan pemberitaan kami dan menjadi sengketa.

Nusantara

Peringati HUT ke 61, Karang Taruna Sobang Adakan Turnamen Badminton

Published

on

By

Dalam rangka memperingati HUT ke 61, Karang Taruna Kecamatan Sobang mengadakan kegiatan Turnamen Badminton bertempat di Gedung Olah Raga Guru

LEBAK, CAKRATARA – Dalam rangka peringati HUT ke 61, Karang Taruna Kecamatan Sobang mengadakan kegiatan Turnamen Badminton bertempat di Gedung Olah Raga Guru (GOR) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Sobang, di Kampung Pasir Eurih, Desa Sindanglaya Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Minggu (26/9/2021).

Panitia Turnamen Badminton Karang Taruna Kecamatan Sobang Mamat Apianto mengatakan, dalam rangka peringati HUT ke 61 Karang Taruna (Katar) dari pengurus sekaligus Panitia Karang Taruna Kecamatan Sobang ini mengadakan turnamen badminton untuk menjalin tali silaturahmi dan mengembangkan bakat para pemuda yang ada di Kecamatan Sobang.

“Alhamdulilah dari semua kalangan sangat antusias mengikuti turnamen badminton, dan dalam kegiatan tersebut kami pun tidak lepas mematuhi Protokol Kesehatan,” ungkap Mamat.

Ketua Karang Taruna (Katar) Kecamatan Sobang Asep Hidayat mengatakan, di hari ulang tahun Karang Taruna ke 61, semangat untuk terus meningkatkan rasa cinta kita terhadap sosial lingkungan masyarakat.

“Melalui turnamen tali silaturahmi khususnya bagi pecinta olahraga dan umumnya bagi Kecamatan Sobang,” tutup Asep.

Red: Kosasih
Cakratara

Continue Reading

Nusantara

Janda 6 Anak di Pandeglang Tak Dapat Bantuan Kondisinya Memprihatinkan

Published

on

By

Janda 6 anak diduga tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah kondisinya sangat memprihatinkan bertempat tinggal di Kampung Lebak
Kondisi rumah Ade seorang janda yang memiliki 6 anak. (Foto: Cakratara)

PANDEGLANG, CAKRATARA – Seorang Janda 6 anak diduga tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah kondisinya sangat memprihatinkan bertempat tinggal di Kampung Lebak Buah RT 02 / RW 02, Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Minggu (26/09/2021).

Janda 6 anak bernama Ade (41) hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan ini tinggal di rumah tembok bercampur geribik yang sudah lapuk dimakan usia dan bocor disaat musim penghujan turun sehingga dalam rumah penuh dengan genangan air yang membuat mereka susah tidur.

Kepada wartawan Ade mengaku, bahwa dirinya tidak mendapat bantuan apapun dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama 6 (enam) anaknya. Semenjak bercerai dengan suaminya sekitar 2 tahun silam, kondisi ekonominya sangat memprihatinkan. Lebih miris lagi kedua orang tuanya Ade bercerai lalu ibunya meninggal 4 bulan yang lalu.

“Semenjak saya cerai 2 tahun yang lalu, dan ibu saya meninggal, saya tinggal bersama anak-anak saya tidak punya penghasilan yang tetap, untuk memberi makan anak-anak hanya dari hasil kerja saya yang tidak menentu, apabila ada yang nyuruh, dan terkadang saya bersama anak-anak, bisa makan itu dari pemberian tetangga,” terang Ade, Minggu (26/9/2021).

Dikatakannya, waktu ibu masih ada dirinya kerja di Jakarta, tapi semenjak ibu meninggal tidak ada yang mengurus anak-anak, apalagi anak yang paling kecil masih butuh ASI.

Ade berharap kepada pemerintah, para dermawan atau donatur, agar dapat membantu meringankan penderitaannya, dan berharap untuk memiliki rumah yang layak huni.

Karena, kata Ade, jangankan untuk betulin rumah, untuk kebutuhan hidup bersama anak-anaknya saja sangat kesulitan. Untuk makan sehari-hari saja susah, tiap hari dia hanya menangis, karena tidak mampu memenuhi kebutuhan anaknya yang masih pada sekolah.

“Anak pertama, ke dua, ke tiga dan ke empat masih sekolah, yang ke lima belum sekolah, sedangkan anak yang ke enam baru berumur 4 (tahun) tahun,” pungkas Ade.

Di tempat terpisah Ketua OKK DPP Badak Banten Samsuni, Kepada Awak Media Via Pesan Whatssap mengatakan Realita yang mengenaskan ini ternyata benar-benar ada di negeri yang kaya ini. Merasa berdosa rasanya jika kondisi warga duafa ini tidak segera teratasi bersama.

“Kami mengajak kepada para dermawan yang ingin ikut berkontribusi dalam Gerakan Sosial Kemanusiaan ini guna membantu keluarga kurang mampu tersebut, mari salurkan infaknya,” kata Samsuni.

“Kami juga berharap berita ini sampai ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang cq Dinas Sosial, Dinas Perumahan dan Permukiman, Baznas Pandeglang, dan para Wakil Rakyat, anggota DPRD Pandeglang yang terhormat,” tutup Samsuni.

Yeyen Sudrajat
Cakratara

Continue Reading
Advertisement

Facebook

Trending

Cakratara.com We would like to show you notifications for the latest news and updates.
Dismiss
Allow Notifications