Connect with us

Budaya dan Pariwisata

Keindahan Destinasi Curug Tujuh di Sawarna Timur Terhambat Akses Jalan

Published

on

keindahan Destinasi Wisata baru mulai familiar dengan kunjungan para wisatawan yang bernama Curug 7 (tujuh) berada di aliran Sungai Cibunar
Destinasi Wisata Curug 7 Sawarna Timur (Cakratara)

LEBAK, CAKRATARA – Terdapat keindahan Destinasi Wisata baru mulai familiar dengan kunjungan para wisatawan yang bernama Curug 7 (tujuh) berada di aliran Sungai Cibunar kembali ditemukan di Desa Sawarna Timur, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Keindahan Destinasi Wisata Curug 7 (tujuh) tersebut diketahui mempunyai tujuh Curug (air terjun) yang masih alami, berombak dengan dikelilingi batu-batu karang terjal. Salah satunya ada air terjun yang cukup besar dengan kolam yang cukup luas di bawahnya yang sangat cocok untuk dijadikan kolam pemandian.

Selain itu, Curug 7 memiliki keindahan yang asri mampu bersaing dengan tempat pariwisata lain pada umumnya. Di samping itu, tempat pariwisata itu dapat mendongkrak perekonomian masyarakat.

Namun, sayangnya akses jalan menuju ke Destinasi Wisata Curug 7 tersebut masih sangat ekstrim yang mana harus melalui tebing karang terjal dan lobang dari atas bebatuan yang sementara ini dibuatkan tangga.

Menurut seorang Pegiat Wisata Kabupaten Lebak, H.M Erwin Komara Sukma mengatakan, bahwa yang menjadi hambatan bagi para pengunjung tempat Wisata Curug 7 adalah sulitnya akses jalan untuk menuju Wisata Curug 7 (tujuh) akibat jalanan yang terjal dan berbatu.

“Yang dibutuhkan saat ini adalah infrastruktur jalan menuju Curug tujuh dan juga penataan Curug tujuh dengan dibuatkan jembatan dan tangga yang menghubungkan ke masing masing air terjun,” kata Erwin.

“Ketika ada pembangunan infrastruktur akses jalan menuju tempat Wisata Curug 7, tidak menutup kemungkinan akan lebih ramai para pengunjung yang datang ke lokasi yang kemudian dapat mendongkrak perekonomian masyarakat,” tutup Erwin.

Asep D Mulyadi
Cakratara

Redaksi Cakratara.com melayani HAK JAWAB, dan HAK KOREKSI, apabila ada keberatan atau ketidakpuasan dengan pemberitaan kami dan menjadi sengketa.

Budaya dan Pariwisata

Pantai Datuk Pesona Wisata Alam di Kabupaten Batu Bara

Published

on

Pantai Datuk di Kecamatan Sei suka, Kabupaten Batu Bara, Kawasan hiburan bagi masyarakat dibangun Pemerintah bekerja sama dengan pengelola

BATU BARA, CAKRATARA – Tampak kegembiran warga pengunjung berbaur menjadi satu saat menikmati pesona pantai yang meliputi pepohonan hingga memadati Kawasan Pantai Datuk di Desa Kuala Indah, Kecamatan Sei suka, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.

Kawasan hiburan bagi masyarakat tersebut dibangun Pemerintah Kabupaten Batu Bara yang bekerja sama dengan pengelola masyarakat setempat.

Hal ini sempat sepi dengan adanya larangan saat menghadapi masa pandemi covid-19 beberapa waktu lalu. Namun, Pantai Datuk kini telah bisa dilakukan pembukaan kembali dengan aturan yang ketat bagi pengunjung untuk menerapkan 5M yang dibantu Personel Satpol PP dan Personel TNI yang turut melakukan pengamanan protokol kesehatan.

Salah seorang warga yang berkunjung dari Medan pada Minggu (20/6/21), Aisyah sangat senang dan takjub dengan pesona alam Pantai Datuk. Ia mengungkapkan rasa bahagia bersama keluarga dengan tarif murah meriah.

“Kami ke sini akan pulang sore sambil menghadiri kegiatan arisan keluarga temu sapa di pantai ini sehabis lebaran yang beberapa waktu lalu belum bisa terlaksana,” ungkapnya.

Selain Aisyah, seorang Warga Kabupaten Batu Bara, Indah menuturkan setiap Minggu bersama keluarga mendatangi Pantai Datuk untuk menikmati indahnya pantai sembari liburan.

“Berlibur ke pantai bagi kami bisa membuat kami senang dan bahagia karena bisa ber gembira bersama teman dan keluarga saat mengunjungi pantai,” kata Indah.

Rasa gembira muncul saat menyaksikan warga, ramai memadati kawasan Pantai Datuk yang begitu memiliki pesona yang elok, serta bibir pantai yang berdekatan dengan kawasan inalum serta pelabuhan Pelindo.

Adapun bangunan yang ada meski belum maksimal dibangun menjadi keindahan tersendiri, banyaknya pepohonan menambah kenyamanan bagi warga pengunjung yang bersantai serta berfoto selfi.

Fasilitas yang ada dari Rumah gubuk indah di kelilingi air, Rumah Sarang Burung gantung, water park, serta wisata alam maghrove dan jembatan yang mengarah ke bibir pantai seta panorama pohon yang rindang di tambah dentuman musik kaybord bagi pengunjung menjadi kawasan pantai yang bagus, tempat istrirahat pengunjung juga telah tersedia yang juga ada ruang santai bagi pengunjung yang ingin nongkrong

Biarpun hanya datang untuk sekedar membawa anaknya bermain di pantai sambil bersantai di bawah pohon yang rindang,namun paling tidak, fasilitas kawasan pantai ini, mulai menampakkan eksistensinya sebagai tempat hiburan masyarakat yang murah dan terjangkau,
Baik pedagang kecil serta para Pengelolah yang bisa mendapatkan pendapatan dari sektor pariwisata Pantai Datuk.

Hal ini sekaligus menjadi pertanda akan mulai berangsur-angsur pulihnya kondisi ekonomi warga saat di hadapi dilema panjang covid-18 serta peningkatan pendapatan daerah kabupaten batu bara dalam sektor wisata lokal.

Rasa gembira warga terlihat dengan antusias kedatangan pengunjung dari pantauan awak media melihat warga berjubel memadati kawasan pantai datuk yang turut telah melakukan prokes dalam kunjungan warga yang ingin bermain di kawasan pantai.

Kedatangan warga pengunjung melihat di padati pengunjung yang berkumpul untuk sekedar melepas kepenatan, tersenyum, dan tertawa lepas menanggalkan segenap rasa lelah dan stress menyaksikan ceria anak-anak bermain di rindangnya alam

Sebuah pemandangan kontras yang menyimbolkan rasa haus masyarakat Batu bara baik lokal maupun dari luar kota secara antusias dengan antrian masuk kendaraan dan ramainya di dalam kawasan sepanjang pantai akan hiburan.

Rasa keceriaan Pengunjung terasa menyaksikan indahnya pesona alam tersenyum penuh gembira para para pedagang kaki lima yang sibuk meladeni pembeli di tengah jalan menuju pantai

Lapak dagangan mereka yang sebelumnya sepi, berubah padat, dan ramai dalam seketika, mulai di padati pengunjung yang ingin membeli keperluan Pada setiap hari minggu maupun hari libur yang padat pengunjung.

Meski keuntungan yang mereka raup tidaklah terlalu banyak, karena harus berbagi dengan sesama pedagang di sekitarnya, namun paling tidak, rezeki yang mereka peroleh untuk edisi hari Minggu, (18/06) siang, dari pedagang bakso, minuman, KFC serta makanan tradisional lainnya.

Rudi
Cakratara

Continue Reading

Budaya dan Pariwisata

BPPKB DPAC Banjarsari Gelar Seni Debus Peringatan Hari Lahir Pancasila

Published

on

memperingati hari lahir Pancasila, Ormas BPPKB DPAC Banjarsari menyelenggarakan seni debus di Alun-alun Kecamatan Malingping

LEBAK, CAKRATARA – Dalam rangka memperingati hari lahir Pancasila, Ormas BPPKB DPAC Banjarsari, Alex Garung bersama anggotanya menyelenggarakan seni debus di Alun-alun Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai.

Kegiatan seni debus peringatan hari lahir Pancasila itu turut dihadiri oleh berbagai kalangan mulai dari pemerintah kecamatan setempat, masyarakat setempat, serta seluruh aktivis dari berbagai organisasi.

Momen tersebut dimanfaatkan oleh Ormas BPPKB DPAC Banjarsari dengan menggelar kegiatan Seni Debus untuk memeriahkan acara serta mengingatkan semua orang akan peninggalan sejarah nenek moyang yang harus tetap dilestarikan.

Ketua Ormas DPAC Banjarsari, Alex mengatakan kepada awak media bahwa dirinya sengaja menggelar kegiatan Seni Debus tersebut guna mengingatkan semua orang bahwa kesenian debus merupakan hal yang tak terpisahkan dari sejarah bangsa ini dan juga merupakan kesenian ciri khas yang ada di Provinsi Banten.

“Dalam kegiatan apapun Seni Debus akan kami terus gelorakan agar masyarakat kita tetap mengenal kesenian asli Banten,” tegasnya

Lanjut Alex, BPPKB DPAC Banjarsari akan tetap mengawal setiap peringatan hari raya besar nasional guna menjaga persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Oleh karena itu, dirinya bersama anggota tetap terus melestarikan kesenian debus ini agar masyarakat khususnya generasi mendatang tetap mengenal kesenian asli Banten.

“Kegiatan Seni Debus ini penting dan akan kami tetap lestarikan sebagai sejarah nenek moyang kita serta agar masyarakat kita tidak kehilangan jati dirinya sebagai masyarakat asli Banten,” tutupnya.

Herdi Sudrajat
Cakratara

Continue Reading
Advertisement

Facebook

Trending

Cakratara.com We would like to show you notifications for the latest news and updates.
Dismiss
Allow Notifications